Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Selamat datang di blog saya yang sederhana ini, blog yang berisikan kajian tentang Islam dan Psikologi. Semoga dengan sedikit ilmu ini, bisa memberikan manfaat yang besar bagi Anda semua yang berkunjung ke blog ini. Terima Kasih.

Wassalamua'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu ^_^

Selasa, 28 Agustus 2012

Sabar sebagai Self Therapy dalam Psikologi Islam


Suatu hari secara tidak sengaja ketika saya sedang mempelajari salah satu teknik konseling dan terapi psikologis, yaitu teknik Non Directive Therapy yang dikembangkan oleh Carl R.Rogers. Saya terdiam sejenak dan agak tersentil ketika mempelajarinya lebih dalam, karena teknik tersebut sejatinya sering saya gunakan baik untuk diri saya sendiri, maupun untuk beberapa orang yang sering meminta saya untuk menterapinya.
Namun yang membuat saya terperangah bukanlah mengenai teknik yang dikembangkan oleh Carl Roger sendiri, namun mengenai salah satu cara (selanjutnya saya sebut teknik) yang pernah dikemukakan oleh salah seorang pakar kesehatan mental Islam, yang kebetulan juga dosen saya. Yaitu Prof.DR.Zakiah Darajat. Pernah dalam salah satu kuliahnya beliau memaparkan tentang salah satu teknik Self Therapy dalam Psikologi Islam, yaitu tentang kesabaran.
Non Directive Therapy yang sejatinya merupakan teknik Self Therapy, karena konseli/klien diberikan kesempatan lebih luas untuk melepaskan emosi yang dalam dan memberi lebih banyak kesempatan untuk pertumbuhan dirinya pribadi atau dikenal dengan istilah ”self sufficiency”. Sehingga mengurangi ketergantungan konseli terhadap konselornya. Namun dibandingkan dengan teknik Non Directive Therapy, Terapi kesabaran lebih cocok dikatakan sebagai Self Therapy, karena teknik ini bahkan mampu dilakukan benar-benar tanpa bimbingan seorang konselor, artinya seseorang benar-benar mampu mandiri dalam menterapi dirinya sendiri.
Sabar sebagai sebuah terapi memiliki tiga fungsi bagi kesehatan jiwa, yaitu fungsi preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), dan konstruktif (pembinaan). Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawa’id menyatakan bahwa sabar memiliki peranan penting dan merupakan kebutuhan utama dalam memperoleh kebahagian hidup. Lebih lanjut lagi masih menurut Ibnu Qayyim, untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki diperlukan pengetahuan ekstra (untuk menuju tujuan dari prinsip-prinsipnya) dan energi kesabaran (yang akan memantapkan jiwanya dalam memikul beban kesulitan). ketika kesabaran dan keyakina kita makin kuat dan mantap, maka dengan sendirinya kita akan semakin tabah dalam menghadapi segala bentuk kesulitan yang muncul dalam pencahariannya terhadap kebaikan dan kenikmatan abadi.
Dalam kitab Ath-Thibb An-Nabawi dijelaskan ada tiga cakupan sabar menurut Ibnu Qayyim, dan ketika seseorang memenuhi ketiga cakupan diatas, maka orang tersebut berhak menerima predikat shabir (orang yang sabar). Lalu apa saja ketiga cakupan tersebut? Berikut adalah ketiga cakupan tersebut:
1.      Sabar menjalankan perintah agama, sabar dalam beribadah, yakni ketekuanan dan kesungguhan untuk melakukan perbuatan mulia.
2.      Menjauhi perbutan maksiat, sabar untuk tidak melakukan kemaksiatan. Yakni system control diri terhadap syahwat dan hawa nafsu.
3.      Ridha (menerima dengan lapang dada dan tulus) terhadap takdir, sabar dalam menghadapi takdir buruk. Yakni ridha menerima takdir meskipun buruk dan menghadapinya dengan tegar.
Ibnu Qayyim memberi penjelasan sebagai berikut, beliau menyatakan sabar merupakan bagian dari iman, ibarat kepala dengan badan. Dan orang yang mampu melakukan ketiga hal yang telah disebutkan diatasa maka akan memperoleh kesempurnaan kesabaran, kenikmatan, serta kemenangan dunia dan akhirat. Keberanian, iffah (menjaga kehormatan diri), kedermawanan, dan itsar (semangat berkorban dan mengutamakan orang lain) merupakan bentuk kesabaran sesaat.
Muhammad Utsman Najati, salah seorang pakar psikologi timur tengah yang sangat terkenal di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia sendiri. Memiliki penafsiran tersendiri mengenai teori yang dikemukakan oleh ulama besar Islam Ibnu Qayyim tersebut, yakni apabila manusia dapat belajar bersabar dalam beribadah, melawan syahwat dan luapan emosinya, serta sabar dalam berbuat dan berkarya, maka ia akan menjadi manusia yang berkepribadian matang, seimbang, sempurna, produktif, efektif, dan mengkonfrontasi segala bentuk kegelisahan, serta terhindar dari gangguan jiwa.
Berdasarakn paparan diatas, saya sangat setuju dengan salah satu ungkapan yang berbunyi, “selalu ada hikmah di balik setiap kejadian.” Ungkapan yang sekaligus menjadi salah sau motto hidup saya. Namun satu hal yang perlu diingat disini adalah kesabaran mampu membuat kita untuk terus selalu survive dan selalu bersama dalam naungan, perlindungan, kasih sayang Allah swt. Sebagaimana yang Allah janjikan kepada hamba-hambanya yang sabar, Innalaha ma’a shabirrin (Allah beserta orang-orang yang sabar). Jadi jika Anda ditimpa suatu kesulitan, kesedihan, atau segala macam hal yang membuat Anda GALAU, maka lakukanlah teknik ini dan selalu minta pertolonganlah kepada Allah. Karena innamaa’l usri yusraan, sesungguhnya dibalik kesulitan itu pasti ada kemudahan.
Sebenarnya masih banyak pendapat para tokoh tentang metode sabar sebagai salah satu teknik self therapy dalam psikologi Islam, namun saya tidak ingin membuat Anda pusing dengan artikel ini dengan memaparkan terlalu banyak teori. Intinya adalah terapi ini mampu dilakukan oleh siapapun, dimanapun dan kapan saja. Terima kasih banyak telah mengunjungi, dan membaca blog saya ini. Semoga dengan pemaparan ringkas ini, insya Allah bisa memberikan manfaat yang besar bagi kita semua. Aamiin. Dan saya akhiri tulisan saya ini dengan menyampaikan firman Allah swt, dalam surat Al-Baqarah (2):155-157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ {155} الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ {156} أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ {157)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (QS. 2:155)
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS. 2:156)
Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:157)

Wassalamua’laikum Warrahmatullahi Wabarakatuhu
Nur Hidayat Saleh
28 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar